Radiologi adalah suatu ilmu tentang penggunaan sumber sinar pengion dan
bukan pengion, gelombang suara dan magnet untuk imaging diagnostik dan
terapi.
Dari pengertian itu, bidang-bidang yang termasuk dalam radiologi adalah
1) Radiodiagnostik, yaitu cabang ilmu radiologi yang memanfaatkan sinar
pengion (Sinar X) untuk membantu diagnosa dalam bentuk foto yang bisa
di dokumentasikan.
2) Radioterapi, adalah salah satu regimen terapi untuk penyakit terutama
keganasan
( kanker ) dengan menggunakan sinar pengion/radioaktif.
3) Kedokteran Nuklir, yaitu bidang kedokteran yang memanfaatkan materi
radioaktif ( radioisotop ) untuk menegakkan diagnosis dan mengobati
penderita serta mempelajari penyakit manusia. Bisa juga untuk
pemeriksaan dinamika organ misalnya pemeriksaan fungsi jantung dan
ginjal.
4) Ultrasonografi, adalah penggunaan gelombang suara frekuensi sangat
tinggi / ultrasonik ( 3,5 – 5 MHz ) untuk membantu diagnosis. Ultrasound
adalah gelombang suara dengan frekuensi lebih dari 20.000 Hz. Yang di
gunakan dalam bidang kedokteran antara 1 – 10 MHz. 5) MRI ( Magnetic
Resonance Imaging ), adalah teknik diagnosa yang memanfaatkan medan
magnet dan gelombang frekuensi radio. Pemeriksaan ini tidak menimbulkan
bahaya radiasi, hanya ada beberapa pasien dengan kondisi tertentu tidak
di perkenankan memanfaatkan aplikasi ini. Keunggulan lain dari MRI
adalah dapat di peroleh hasil gambar berupa penampang dari berbagai
arah.
Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/radiology/2173571-pengertian-radiologi/#ixzz1szikeObO
Minggu, 26 Januari 2014
Modalitas Imaging
Modalitas pencitraan yang digunakan dalam bidang radiologi diagnostik ada apa aja yaa?
yuuk d baca..
Proyeksi (polos) radiografi
Radiografi (atau Roentgenographs, dinamai penemu sinar-X, Wilhelm Conrad Röntgen) yang diproduksi oleh transmisi X-Rays melalui pasien ke perangkat menangkap kemudian diubah menjadi gambar untuk diagnosis. Pencitraan asli dan masih sering memproduksi film diresapi perak. Dalam Film - Layar radiografi tabung x-ray menghasilkan sinar x-ray yang bertujuan untuk pasien. X-sinar yang melewati pasien disaring untuk mengurangi tersebar dan kebisingan dan kemudian menyerang sebuah film yang belum dikembangkan, memegang erat-erat ke layar fosfor memancarkan cahaya dalam sebuah kaset cahaya-ketat. Film ini kemudian dikembangkan kimia dan gambar muncul di film. Sekarang menggantikan Film radiografi-Screen Digital Radiografi, DR, di mana x-ray mogok sepiring sensor yang kemudian mengubah sinyal yang dihasilkan menjadi informasi digital dan sebuah gambar pada layar komputer.Fluoroskopi
Fluoroskopi dan angiografi adalah aplikasi khusus pencitraan X-ray, di mana layar fluorescent dan intensifier gambar tabung dihubungkan ke sistem televisi sirkuit tertutup. Hal ini memungkinkan real-time pencitraan struktur dalam gerakan atau ditambah dengan agen radiocontrast. Agen radiocontrast yang diberikan, sering ditelan atau disuntikkan ke tubuh pasien, untuk menggambarkan anatomi dan fungsi pembuluh darah, sistem Genitourinary atau saluran pencernaan. Dua radiocontrasts saat ini digunakan. Barium (sebagai Baso 4) dapat diberikan secara lisan atau dubur untuk evaluasi dari saluran GI. Yodium, dalam bentuk kepemilikan beberapa, dapat diberikan melalui oral, rektal, rute intraarterial atau intravena. Para agen radiocontrast kuat menyerap atau menyebarkan radiasi sinar-X, dan dalam hubungannya dengan pencitraan real-time memungkinkan demonstrasi proses dinamis, seperti peristaltik di saluran pencernaan atau aliran darah dalam arteri dan vena. Yodium kontras mungkin juga terkonsentrasi di daerah abnormal lebih atau kurang dari pada jaringan normal dan membuat kelainan (tumor, kista, radang) lebih mencolok. Selain itu, dalam keadaan tertentu udara dapat digunakan sebagai agen kontras untuk sistem pencernaan dan karbon dioksida dapat digunakan sebagai agen kontras dalam sistem vena, dalam kasus ini, agen kontras melemahkan radiasi sinar-X kurang dari jaringan sekitarnya .
CT Scan
Pencitraan
CT menggunakan X-ray dalam hubungannya dengan algoritma komputasi untuk
citra tubuh. Dalam CT, sebuah tabung sinar-X menghasilkan berlawanan
detektor sinar-X (atau detektor) dalam alat berbentuk cincin berputar di
sekitar pasien menghasilkan sebuah komputer yang dihasilkan penampang
gambar (tomogram). CT diperoleh pada bidang aksial, sedangkan gambar
koronal dan sagital dapat diberikan oleh rekonstruksi komputer. Agen
radiocontrast sering digunakan dengan CT untuk deliniasi ditingkatkan
anatomi. Meskipun radiografi memberikan resolusi spasial lebih tinggi,
CT dapat mendeteksi variasi lebih halus dalam redaman sinar-X. CT
menghadapkan pasien untuk radiasi pengion lebih dari sebuah radiograf.
Spiral Multi-detektor CT menggunakan detektor 8,16 atau 64 selama terus
bergerak pasien melalui berkas radiasi untuk mendapatkan gambar yang
lebih halus banyak detail dalam waktu yang lebih pendek ujian. Dengan
administrasi yang cepat kontras IV selama CT scan gambar-gambar detail
halus dapat direkonstruksi menjadi gambar 3D arteri karotis, otak dan
koroner, CTA, CT angiografi. CT scan telah menjadi uji pilihan dalam
mendiagnosis beberapa kondisi mendesak dan muncul seperti pendarahan
otak, emboli paru (penyumbatan dalam arteri paru-paru), diseksi aorta
(robeknya dinding aorta), radang usus buntu, divertikulitis, dan batu
ginjal menghalangi . Melanjutkan perbaikan dalam teknologi CT termasuk
kali pemindaian lebih cepat dan resolusi ditingkatkan telah secara
dramatis meningkatkan keakuratan dan kegunaan CT scan dan akibatnya
meningkatkan pemanfaatan dalam diagnosis medis.
USG (Ultrasonografi)
Medis
ultrasonografi menggunakan USG (frekuensi tinggi gelombang suara) untuk
memvisualisasikan struktur jaringan lunak dalam tubuh secara real time.
Tidak ada radiasi pengion yang terlibat, tetapi kualitas gambar yang
diperoleh dengan menggunakan USG sangat tergantung pada keterampilan
orang (ultrasonographer) melakukan ujian. USG juga dibatasi oleh
ketidakmampuan untuk foto melalui udara (paru-paru, usus loop) atau
tulang. Penggunaan USG dalam pencitraan medis telah mengembangkan
sebagian besar dalam 30 tahun terakhir. Gambar USG pertama statis dan
dua dimensi (2D), tapi dengan zaman modern rekonstruksi 3D
ultrasonografi dapat diamati secara real-time; efektif menjadi 4D.
MRI (Magnetic Resonance Imaging)
MRI
menggunakan medan magnet yang kuat untuk menyelaraskan inti atom
(biasanya proton hidrogen) di dalam jaringan tubuh, kemudian menggunakan
sinyal radio untuk mengganggu sumbu rotasi inti ini dan mengamati
sinyal frekuensi radio yang dihasilkan sebagai inti kembali ke negara
awal mereka ditambah semua sekitarnya daerah. Sinyal radio yang
dikumpulkan oleh antena kecil, yang disebut gulungan, ditempatkan di
dekat daerah tertentu. Keuntungan dari MRI adalah kemampuannya untuk
menghasilkan gambar di aksial, koronal, sagital pesawat miring dan
beberapa dengan mudah sama. MRI scan memberikan kontras jaringan lunak
terbaik dari semua modalitas pencitraan. Dengan kemajuan dalam
pemindaian kecepatan dan resolusi spasial, dan perbaikan dalam algoritma
3D komputer dan perangkat keras, MRI telah menjadi alat dalam radiologi
muskuloskeletal dan neuroradiology.
Kedokteran Nuklir
Pencitraan
kedokteran nuklir melibatkan administrasi ke pasien radiofarmasi
terdiri dari zat dengan afinitas untuk jaringan tubuh tertentu diberi
label dengan perunut radioaktif. Para pelacak yang paling umum digunakan
adalah Technetium-99m, Yodium-123, Iodine-131, Gallium-67 dan
Thallium-201. Jantung, paru-paru, tiroid, hati, kandung empedu, dan
tulang umumnya dievaluasi untuk kondisi tertentu menggunakan teknik ini.
Sementara detail anatomi terbatas dalam studi ini, kedokteran nuklir
ini berguna dalam menampilkan fungsi fisiologis. Fungsi ekskretoris pada
ginjal, kemampuan berkonsentrasi yodium dari aliran, tiroid darah ke
otot jantung, dll dapat diukur. Perangkat pencitraan utama adalah kamera
gamma yang mendeteksi radiasi yang dipancarkan oleh pelacak dalam tubuh
dan menampilkannya sebagai gambar. Dengan pemrosesan komputer,
informasi yang dapat ditampilkan sebagai aksial, gambar koronal dan
sagital (SPECT gambar, tunggal emisi photon computed tomography). Dalam
perangkat yang paling modern Kedokteran Nuklir gambar dapat menyatu
dengan CT scan diambil kuasi-secara bersamaan sehingga informasi
fisiologis dapat dilakukan overlay atau co-terdaftar dengan struktur
anatomis untuk meningkatkan akurasi diagnostik.
PET, (positron emission
tomography), pemindaian juga berada di bawah "kedokteran nuklir." Dalam
PET scan, zat biologis aktif radioaktif, paling sering Fluorin-18
fluorodeoxyglucose, disuntikkan ke pasien dan radiasi yang dipancarkan
oleh pasien terdeteksi untuk menghasilkan multi-planar gambar tubuh.
Jaringan lebih aktif metabolisme, seperti kanker, zat aktif
berkonsentrasi lebih dari jaringan normal. PET gambar dapat
dikombinasikan dengan gambar CT untuk meningkatkan akurasi diagnostik.
Selasa, 21 Januari 2014
RADIOBIOLOGI
"Efek Radiasi Pengion terhadap Jaringan Tubuh"
Tubuh terdiri dari berbagai macam organ seperti hati, ginjal, paru dan lainnya. Setiap organ tubuh tersusun atas jaringan yang merupakan kumpulan sel yang mempunyai fungsi dan struktur yang sama. Sel sebagai unit fungsional terkecil dari tubuh dapat menjalankan fungsi hidup secara lengkap dan sempurna seperti pembelahan, pernafasan, pertumbuhan dan lainnya. Sel terdiri dari dua komponen utama, yaitu sitoplasma dan inti sel (nucleus). Sitoplasma mengandung sejumlah organel sel yang berfungsi mengatur berbagai fungsi metabolisme penting sel. Inti sel mengandung struktur biologic yang sangat kompleks yang disebut kromosom yang mempunyai peranan penting sebagai tempat penyimpanan semua informasi genetika yang berhubungan dengan keturunan atau karakteristik dasar manusia. Kromosom manusia yang berjumlah 23 pasang mengandung ribuan gen yang merupakan suatu rantai pendek dari DNA (Deooxyribonucleic acid) yang membawa suatu kode informasi tertentu dan spesifik.
Tubuh terdiri dari berbagai macam organ seperti hati, ginjal, paru dan lainnya. Setiap organ tubuh tersusun atas jaringan yang merupakan kumpulan sel yang mempunyai fungsi dan struktur yang sama. Sel sebagai unit fungsional terkecil dari tubuh dapat menjalankan fungsi hidup secara lengkap dan sempurna seperti pembelahan, pernafasan, pertumbuhan dan lainnya. Sel terdiri dari dua komponen utama, yaitu sitoplasma dan inti sel (nucleus). Sitoplasma mengandung sejumlah organel sel yang berfungsi mengatur berbagai fungsi metabolisme penting sel. Inti sel mengandung struktur biologic yang sangat kompleks yang disebut kromosom yang mempunyai peranan penting sebagai tempat penyimpanan semua informasi genetika yang berhubungan dengan keturunan atau karakteristik dasar manusia. Kromosom manusia yang berjumlah 23 pasang mengandung ribuan gen yang merupakan suatu rantai pendek dari DNA (Deooxyribonucleic acid) yang membawa suatu kode informasi tertentu dan spesifik.
Interaksi
antara radiasi dengan sel hidup merupakan proses yang berlangsung
secara bertahap. Proses ini diawali dengan tahap fisik dan diakhiri
dengan tahap biologik. Ada empat tahapan interaksi, yaitu :
1. Tahap Fisik
Tahap Fisik berupa absorbsi energi radiasi pengion yang
menyebabkan terjadinya eksitasi dan ionisasi pada molekul atau atom
penyusun bahan biologi. Proses ini berlangsung sangat singkat dalam orde
10-16 detik. Karena sel sebagian besar (70%) tersusun atas air, maka
ionisasi awal yang terjadi di dalam sel adalah terurainya molekul air
menjadi ion positif H2O+ dan e- sebagai ion negatif. Proses ionisasi ini dapat ditulis dengan :
H2O + radiasi pengion —> H2O+ + e-
2. Tahap Fisikokimia
Tahap fisikokimia dimana atom atau molekul yang tereksitasi atau
terionisasi mengalami reaksi-reaksi sehingga terbentuk radikal bebas
yang tidak stabil. Tahap ini berlangsung dalam orde 10-6 detik. Karena
sebagian besar tubuh manusia tersusun atas air, maka peranan air sangat
besar dalam menentukan hasil akhir dalam tahap fisikokimia ini. Efek
langsung radiasi pada molekul atau atom penyusun tubuh selain air hanya
memberikan sumbangan yang kecil bagi akibat biologi akhir dibandingkan
dengan efek tak langsungnya melalui media air tersebut. Ion-ion yang
terbentuk pada tahap pertama interaksi akan beraksi dengan molekul air
lainnya sehingga menghasilkan beberapa macam produk , diantaranya
radikal bebas yang sangat reaktif dan toksik melalui radiolisis air,
yaitu OH- dan H+. Reaksi kimia yang terjadi dalam tahap kedua interaksi ini adalah:
H2O+ —-> H+ + OH-
H2O + e –> H2O-
H2O- –> OH- + H+
Radikal bebas OH- dapat membentuk peroksida (H2O2 ) yang bersifat
oksidator kuat melalui reaksi berikut :
OH- + OH + —> H2O2
3. Tahap Kimia Dan Biologi
Tahap kimia dan biologi yang berlangsung dalam beberapa detik
dan ditandai dengan terjadinya reaksi antara radikal bebas dan
peroksida dengan molekul organik sel serta inti sel yang terdiri atas
kromosom. Reaksi ini akan menyebabkan terjadinya kerusakan-kerusakan
terhadap molekul-molekul dalam sel. Jenis kerusakannya bergantung pada
jenis molekul yang bereaksi. Jika reaksi itu terjadi dengan molekul
protein, ikatan rantai panjang molekul akan putus sehingga protein
rusak. Molekul yang putus ini menjadi terbuka dan dapat melakukan reaksi
lainnya. Radikal bebas dan peroksida juga dapat merusak struktur
biokimia molekul enzim sehingga fungsi enzim terganggu. Kromosom dan
molekul DNA di dalamnya juga dapat dipengaruhi oleh radikal bebas dan
peroksida sehingga terjadi mutasi genetik.
4. Tahap Biologis
Tahap biologis yang ditandai dengan terjadinya tanggapan
biologis yang bervariasi bergantung pada molekul penting mana yang
bereaksi dengan radikal bebas dan peroksida yang terjadi pada tahap
ketiga. Proses ini berlangsung dalam orde beberapa puluh menit hingga
beberapa puluh tahun, bergantung pada tingkat kerusakan sel yang
terjadi. Beberapa akibat dapat muncul karena kerusakan sel, seperti
kematian sel secara langsung, pembelahan sel terhambat atau tertunda
serta terjadinya perubahan permanen pada sel anak setelah sel induknya
membelah. Kerusakan yang terjadi dapat meluas dari skala seluler ke
jaringan, organ dan dapat pula menyebabkan kematian.
Dilihat dari interaksi biologi tadi di atas, maka secara biologis efek radiasi dapat dibedakan atas :
1. Berdasarkan jenis sel yang terkena paparan radiasi
Sel dalam tubuh manusia terdiri dari sel genetic dan sel somatic. Sel genetic adalah sel telur pada perempuan dan sel sperma pada laki-laki, sedangkan sel somatic adalah sel-sel lainnya yang ada dalam tubuh.
Berdasarkan jenis sel, maka efek radiasi dapat dibedakan atas :
- Efek Genetik (non-somatik) atau efek pewarisan adalah efek yang dirasakan oleh keturunan dari individu yang terkena paparan radiasi.
- Efek Somatik adalah efek radiasi yang dirasakan oleh individu yang terpapar radiasi. Waktu yang dibutuhkan sampai terlihatnya gejala efek somatik sangat bervariasi sehingga dapat dibedakan atas :
- Efek segera adalah kerusakan yang secara klinik sudah dapat teramati pada individu dalam waktu singkat setelah individu tersebut terpapar radiasi, seperti epilasi (rontoknya rambut), eritema (memerahnya kulit), luka bakar dan penurunan jumlah sel darah. Kerusakan tersebut terlihat dalam waktu hari sampai mingguan pasca iradiasi.
- Efek tertunda merupakan efek radiasi yang baru timbul setelah waktu yang lama (bulanan/tahunan) setelah terpapar radiasi, seperti katarak dan kanker.
2. Berdasarkan dosis radiasi
Bila ditinjau dari dosis radiasi (untuk kepentingan proteksi radiasi), efek radiasi dibedakan atas efek stokastik danefek deterministic (non-stokastik).
i. Efek Stokastik adalah
efek yang penyebab timbulnya merupakan fungsi dosis radiasi dan
diperkirakan tidak mengenal dosis ambang. Efek ini terjadi sebagai
akibat paparan radiasi dengan dosis yang menyebabkan terjadinya
perubahan pada sel. Radiasi serendah apapun selalu terdapat kemungkinan
untuk menimbulkan perubahan pada sistem biologik, baik pada tingkat
molekul maupun sel. Dengan demikian radiasi dapat pula tidak membunuh
sel tetapi mengubah sel, sel yang mengalami modifikasi atau sel yang
berubah ini mempunyai peluang untuk lolos dari sistem pertahanan tubuh
yang berusaha untuk menghilangkan sel seperti ini. Semua akibat proses
modifikasi atau transformasi sel ini disebut efek stokastik yang terjadi
secara acak. Efek stokastik terjadi tanpa ada dosis ambang dan baru
akan muncul setelah masa laten yang lama. Semakin besar dosis paparan,
semakin besar peluang terjadinya efek stokastik, sedangkan tingkat
keparahannya tidak ditentukan oleh jumlah dosis yang diterima. Bila sel
yang mengalami perubahan adalah sel genetik, maka sifat-sifat sel yang
baru tersebut akan diwariskan kepada turunannya sehingga timbul efek
genetik atau pewarisan. Apabila sel ini adalah sel somatik maka sel-sel
tersebut dalam jangka waktu yang relatif lama, ditambah dengan pengaruh
dari bahan-bahan yang bersifat toksik lainnya, akan tumbuh dan
berkembang menjadi jaringan ganas atau kanker.
Maka dari itu dapat disimpulkan ciri-ciri efek stokastik a.l :
- Tidak mengenal dosis ambang
- Timbul setelah melalui masa tenang yang lama
- Keparahannya tidak bergantung pada dosis radiasi
- Tidak ada penyembuhan spontan
- Efek ini meliputi : kanker, leukemia (efek somatik), dan penyakit keturunan (efek genetik).
ii. Efek Deterministik (non-stokastik)
adalah efek yang kualitas keparahannya bervariasi menurut dosis dan
hanya timbul bila dosis ambang dilampaui. Efek ini terjadi karena adanya
proses kematian sel akibat paparan radiasi yang mengubah fungsi
jaringan yang terkena radiasi. Efek ini dapat terjadi sebagai akibat
dari paparan radiasi pada seluruh tubuh maupun lokal. Efek deterministik
timbul bila dosis yang diterima di atas dosis ambang(threshold dose) dan
umumnya timbul beberapa saat setelah terpapar radiasi. Tingkat
keparahan efek deterministik akan meningkat bila dosis yang diterima
lebih besar dari dosis ambang yang bervariasi bergantung pada jenis
efek. Pada dosis lebih rendah dan mendekati dosis ambang, kemungkinan
terjadinya efek deterministik dengan demikian adalah nol. Sedangkan di
atas dosis ambang, peluang terjadinya efek ini menjadi 100%.
Adapun ciri-ciri efek non-stokastik a.l :
- Mempunyai dosis ambang
- Umumnya timbul beberapa saat setelah radiasi
- Adanya penyembuhan spontan (tergantung keparahan)
- Tingkat keparahan tergantung terhadap dosis radiasi
- Efek ini meliputi : luka bakar, sterilitas / kemandulan, katarak (efek somatik)(http://myradiologi.blogspot.com )
Senin, 20 Januari 2014
Dasar - Dasar Pesawat Rontgen
· Tegangan Line
Tegangan
line adalah tegangan atau catu daya yang mensupply suatu alat/pesawat
agar alat tsb dapat berfungsi. Tegangan Line dapat berupa tegangan AC
maupun DC. Tegangan Line AC pada umunya diperoleh dari tegangan PLN
· Line Voltage Compensator.
Line Voltage Compensator (LVC) sering disebut juga Line Selector. LVC ini berada pada rangkaian awal dari power supply sebuah pesawat rontgen.
Tujuan
LVC ini adalah mengatur agar tegangan yang masuk ke pesawat Rontgen
sesuai dengan tegangan yang dibutuhkan oleh pesawat itu sendiri.
Kadang
tegangan supply yang dari PLN nilainya dapat kurang atau lebih dari
standar, maka LVC ini mengaturnya agar sesuai yang akan dikomsumsi
pesawat tsb. Line Selector pada umumnya diatur secara manual oleh
operatornya
· Auto Trafo (Automatic Transformer).
Auto
trafo bentuknya hampir sama dengan biasa, namun pada trafo ini jarang
dijumpai adanya lilitan primer maupun sekundernya yang terpisah,
lilitannya hanya lilitan tunggal yang terlilit pada inti besi, namun
terdapat beberapa terminal pengaturan tegangan output.
· Transformator.
Transformtor biasanya orang menyingkatnya dengan kata trafo, gunannya adalah untuk menaikkan atau menurunkan tegangan AC.
Pada hakekatnya trafo terdiri dari teras atau lempengan besi lunak yang disusun rapat, lilitan primer dan lilitan sekunder.
Lilitan
primer adalah gulungan /lilitan kawat tembaga yang dialiri arus /
tegangan yang masuk (input), sedangkan lilitan sekunder adalah gulungan
kawat tembaga yang mempunyai tegangan output setelah inputnya diberi
tegangan.
Kenaikkan/penurunan tegangan output sebanding dengan perbandingan jumlah lilitan pada primer maupn sekunder.
· Tabung sinar x
Jenis
tabung x dibedakan 2 jenis yaitu : Tabung rontgen degan anoda putar
(Rotating anode) dan tabung rontgen dengan anoda diam (Stationary anode). Beberapa
bagian yang terdapat pada tabung rontgen antara lain : Katoda, Anoda,
Rotor (berada diluar insert tube), Stator, Target (piring anoda terbuat
dari wolfram), Tangkai Molybdenum, Rumah tabung (tube housing, Expansion
diaphragma, Tombol pengaman (safety switch), Tube windows( jendela
tanung), Minyak pemdingin (olie trafo)
· Katoda.
Merupakan
tempat filamen yang terbuat dari kawat tungsten yang mempunyai titik
lebur tinggi. Pada filamen terjadi emisi elektron akibat pemanasan
filamen.
Emisi
elektron artinya terlepasnya elektron dari atom-atom bahan filamen
tersebut (atom Wolfram) oleh karena panas yang terjadi pada filamen.
Banyaknya elektron bebas dapat terjadi pada permukaan filamen tergantung
pada pengaturan tegangan yang masuk ke filamen diatur melalui
pengaturan tahanan (Rheostat).
Disamping mempunyai kutub negatif, filamen juga dilengkapi alat pemusat elektron (focusing cup) pada ujung filamen.
· Anoda.
Merupakan
sasaran (target) yang akan ditembaki oleh elektron, dilengkapi dengan
bidang focus (focal spot). Permukaan anoda membentuk sudut dengan
kemiringan 45 derajat. Kemiringan ini untuk mendapatkan focus efektif
agar sinar x yang keluar dari tabung dapat terarah.
Bahan
anoda terbuat dari wolfram/tungsten, dg nomor atom 74 dan mempunyai
titik lebur 3360 derajat Celcius, mempunyai keuntungan sebagai
penghantar panas yang baik. Anoda ini juga berfungsi/merangkap sebagi
kutub positif.
· Tube Housing
Dinding
bagian luar tabungdisebut rumah tabung ,erbuat dari metal, bagian
dalamnya terbuat dari lapisan timbal (Pb), Fungsi dinding ini agar dapat
menekan radiasi yang tidak dibutuhkan. Rumah tabung juga dilengkapi
sambungan kabel tegangan tinggi yaitu kabel dari HTT.
· Tombol (safety switch dan Expansion diaphragma)
Pada
beberapa tabung dilengkapi juga dengan alat pengaman terhadap panas
yang berlebihan yang mungkin terjadi didalam tabung akibat proses
pembangkitan sinar x tersebut. Alat pangaman ini disebut safety switch
denganmemmanfaatkan alat membran yang terdapat pada expansion chamber).
· Windows (jendela tabung)
Pada
bagian dimana sinar dapat keluar disebut poet (window) ditutup dngan
bahan yang terbuat dari kaca atau mika/plastik/acrylic yang fungsinya
disamping dapat melewatkan sinar x , juga dapat menahan minyak trafo
yang ada didalam tabung agar tidak dapat keluar.
· Dinding tabung
Dinding
tabung insert ini terbuat dari gelas pyrex yang berfungsi untuk
menempatkan filamen dan target berada didalam ruangan hampa udara.
Keadaan hampa udara ini berfungsi agar elektron didalam tabung
dapatdikendalikan, Tabung kaca yang tinggi kevakumannya ini terendam
dalam minyak trfao. Minyak ini berfungsi sebagai bahan isolasi tegangan
tinggi dan juga sebagai pendingin tabung rontgen.
· Rotor.
Berfungsi
agar anoda dapat berputar sampai 8000-9000 rpm. Keuntungan denga anoda
putar antara lain pendinginan dpt lebih sempurna, target elektron dapat
berganti-ganti sehingga bisa awet.
· Filter tabung sinar-X.
Pada jendela tabung Rontgen ditempatkan / dipasang filter sinar xl. Ada 2 macam filter, yaitu : a. Inhernt filter dan b. Additional filter.
· Inherent Filter.
Merupakan bahan-bahan yang dilalui sinar x setelah keluar dari target. Inherent
filter terdiri dari gelas/kaca (tabung sinar x, minyak trafo, acrylic
jendela tabung, seluruhnya setara dengan ketebalan dari 0,5 – 1,0 mm
aluminium.
Additional Filter (filter tambahan).
Untuk
setiap pesawat perlu mendapat tambahan filter yakni 1,5 mm – 2,0 mm
ketebalan aluminium yang gunanya untuk dapat menahan sinar-x yang
mempunyai panjang gelombang tertentu.
Untuk
itu ada ketentuan-ketentuan (tabel tertentu) didalam penggunaan filter
tambahan ini sesuai dengan besarnya KV yang digunakan.
Tabung
Rontgen bila digunakan harus mempergunakan alat yang dapat mengarahkan
dan membatasi lapangan penyinaran berupa collimator yang dapat diatur
besar/kecilnya luas bidang pemaparan.
· Persyaratan tabung sinar-X.
a.
Terbuat dari Metalic dan pada bagian dalamnya dilapisi dengan timah
hitam/timbal sehingga tahan panas terhadap sinar-x (x-ray proof)
b. Dinding tabung tahan akan goncangan (shock proof)
c. Harus mempunyai bahan isolasi (minyak trafo) dan tahan terhadap tegangan tinggi.
d. Pada tabung terdapat socket yang berhubungan dengan ujung kabel tegangan tinggi untuk anoda dan katoda.
e. Mampu menerima panas (Anoda heat storage capacity).(http://cafe-radiologi.blogspot.com/2010/09/mengenal-radiasi.html)
Mengenal Radiasi
Apa itu radiasi?
Radiasi dapat
diartikan sebagai energi yang dipancarkan dalam bentuk partikel atau
gelombang. Salah satu contoh sumber radiasi yang sudah kita kenal adalah
matahari. Matahari yang kita kenal memberikan cahaya dan panas. Tanpa
sinar matahari tidak akan ada kehidupan di bumi ini, akan tetapi harus
diakui terlalu banyak sinar matahari yang mengenai tubuh bisa jadi
sangat berbahaya. Karena itu jumlah paparan sinar matahari harus kita
batasi. Efek dari panas matahari biasanya dicegah dengan menggunakan
kacamata hitam, topi, pakaian dan pemakaian tabir surya.
Jenis radiasi
Radiasi terdiri dari beberapa jenis dan setiap jenis dari radiasi tersebut memiliki panjang gelombang masing-masing
1) Ditinjau dari massanya radiasi dapat dibagi menjadi radiasi elektromagnetik dan radiasi partikel. Radiasi
elektromagnetik adalah radiasi yang tidak memiliki massa. Radiasi ini
terdiri dari gelombang radio, gelombang mikro, inframerah, cahaya
tampak, sinar-X, sinar gamma dan sinar kosmik.
Radiasi partikel adalah radiasi yang memiliki massa terukur, misalnya partikel beta, alfa dan neutron. Partikel beta dengan simbol -1β0menunjukkan
bahwa jumlah massa dari radiasi tersebut adalah 0 dan jumlah muatannya
adalah 1 negatif. Partikel alfa dengan simbol 2α4 menunjukkan
bahwa partikel ini memiliki massa sebesar 4 satuan massa atom (sma)
dengan jumlah muatan sebesar positif 2. Sedangkan partikel neutron
dengan simbol 0n1 menunjukkan jumlah massa dari neutron adalah 1 sma dan jumlah muatannya adalah 0.
2) Ditinjau dari muatan listriknya, radiasi terbagi menjadi radiasi non pengion dan pengion.
Radiasi non-pengion adalah radiasi yang tidak dapat menimbulkan
ionisasi. Termasuk ke dalam radiasi non-pengion adalah gelombang radio,
gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak dan ultraviolet.
Radiasi
pengion adalah radiasi yang apabila menumbuk atau menabrak suatu
materi, akan muncul partikel bermuatan listrik yang disebut ion.
Peristiwa terjadinya ion ini disebut ionisasi. Ion-ion hasil
ionisasi ini dapat menimbulkan efek atau pengaruh pada bahan/materi,
termasuk benda hidup, yang berinteraksi oleh radiasi. Radiasi pengion
terkadang disebut juga sebagai radiasi atom atau radiasi nuklir. Yang
termasuk ke dalam radiasi pengion adalah sinar-X, sinar gamma, sinar
kosmik, serta partikel beta, alfa dan neutron. Partikel beta, alfa dan
neutron dapat menimbulkan ionisasi secara langsung. Sedangkan sinar-x,
sinar gamma dan sinar kosmik, meskipun tidak memiliki massa dan muatan
listrik, juga termasuk golongan radiasi pengion karena dapat menimbulkan
ionisasi secara tidak langsung.
Macam-macam radiasi pengion :
Sinar-x dan sinar gamma,
seperti halnya cahaya menghantarkan energi dalam bentuk gelombang tanpa
medium perantara, seperti panas dan cahaya dari api maupun matahari
yang merambat dalam ruang. Sinar-x dan sinar gamma hampir identik,
kecuali bahwa sinar-x umumnya dihasilkan secara artifisial (buatan) dan
bukan berasal dari inti atom, yaitu ketika sebuah elektron berenergi
tinggi menumbuk suatu logam target. Tidak seperti cahaya, sinar-x dan
sinar gamma memiliki daya tembus yang besar dan dapat dengan mudah
menembus tubuh manusia. Penghalang tipis berupa beton, timbal atau air
biasanya digunakan sebagai alat pelindung atau proteksi dari radiasi
ini.
Partikel alfa terdiri
atas 2 proton dan 2 neutron dalam bentuk inti atom (alfa merupakan inti
atom helium). Partikel ini memiliki muatan positif dan dipancarkan oleh
unsur berat yang ada dialam, seperti uranium dan radium, serta dari
beberapa unsur buatan manusia. Alfa berukuran relatif besar, sehingga
mudah menumbuk materi dan dengan cepat kehilangan energinya. Karenanya
partikel ini memiliki daya penetrasi yang rendah dan dapat segera
dihentikan oleh lapisan terluar kulit dan selembar kertas. Akan tetapi,
apabila sumber alfa masuk kedalam tubuh melalui saluran pernafasan
maupun saluran pencernaan, partikel alfa dapat mempengaruhi sel-sel
tubuh. Didalam tubuh, partikel alfa melepaskan energi pada jarak yang
relatif pendek dan menyebabkan kerusakan biologis yang lebih parah
dibandingkan radiasi jenis lain.
Partikel beta
merupakan elektron cepat yang terlempar keluar dari inti atom. Partikel
ini lebih kecil dari partikel alfa dan dapat menembus air maupun daging
manusia hingga 1-2 cm. Partikel beta dipancarkan oleh banyak unsur
radioaktif. Partikel ini dapat dihentikan dengan selembar aluminium
dengan ketebalan beberapa milimeter.
Radiasi kosmik
terdiri dari partikel-partikel termasuk proton yang membordir bumi dari
luar angkasa. Semakin tinggi posisi suatu daerah dari permukaan laut
maka akan semakin besar jumlah radiasi kosmik yang diterima, ini
dikarenakan pada ketinggian permukaan laut, atmosfer bumi jauh lebih
padat dan memberikan perlindungan maksimal, sehingga daerah diatas
permukaan laut menerima lebih banyak radiasi kosmik
Neutron merupakan
partikel yang tidak bermuatan dan berukuran sangat kecil sehingga
memiliki daya tembus yang sangat tinggi. Di bumi, partikel ini umumnya
berasal dari pembelahan atau fisi atom didalam reaktor nuklir. Didalam
rektor biasanya digunakan perisai radiasi berupa air dan beton untuk
menahan radiasi neutron agar tidak lepas dari dalam reaktor.
Penting
untuk dipahami bahwa radiasi alfa, beta, gamma dan sinar-x tidak
menyebabkan tubuh menjadi radioaktif. Akan tetapi, sebagian besar
bahan/materi yang ada dialam (termasuk jaringan tubuh manusia)
mengandung sejumlah zat radioaktif.
Pengukuran radiasi pengion
Gray dan Sievert
Radiasi
tidak dapat dilihat, didengar ataupun dicium. Indra manusia tidak dapat
mendeteksi radiasi maupun membedakan apakah suatu bahan bersifat
radioaktif atau tidak. Namun, ada instrumen khusus yang dapat
mendeteksi dan mengukur radiasi secara akurat dan tepat.
Jumlah
radiasi pengion atau “dosis”, yang diterima seseorang diukur
berdasarkan jumlah energi yang diserap oleh jaringan tubuh, dan
dinyatakan dalam satuan gray. Satu gray (Gy) dapat diartikan sebagai satu joule energi terserap per kilogram materi yang diiradiasi. Satuannya adalah J/kg.
Namun,
jumlah paparan yang sama dari berbagai jenis radiasi berbeda yang
dinyatakan dalam gray, tidak selalui menghasilkan efek biologis yang
persis sama. Contohnya, satu gray radiasi alfa akan memberikan efek yang
lebih besar bila dibandingkan dengan efek yang dihasilkan oleh 1 gray
radiasi beta. Ketika kita berbicara mengenai efek radiasi, maka radiasi
dinyatakan dalam dosis efektif (terkadang dinyatakan sebagai dosis
ekuivalen), dalam satuan yang disebut sievert (Sv).
Terlepas
dari jenis radiasi, satu sievert (Sv) dari radiasi akan menghasilkan
efek biologis yang sama. Untuk nilai yang lebih kecil dinyatakan dalam
“minisievert”, mSv, yang sama dengan satu perseribu sievert atau
“mikrosievert”, yang sama dengan satu persejuta sievert.
(http://cafe-radiologi.blogspot.com/2010/09/mengenal-radiasi.html)
Sabtu, 18 Januari 2014
RADIASI
Radiasi merupakan salah satu modalitas standar pengobatan kanker disamping pengobatan
kanker lainnya, yaitu pembedahan dan kemoterapi. Radiasi menggunakan energi
pengion dan non pengion. Contoh dari energi pengion yaitu: Sinar X (Roentgen),
sinar ɤ (Co60).
Sedangkan energi non pengion seperti menggunakan panas (Hyperthermi). Pengobatan
dengan radiasi dapat diberikan sendiri atau dapat juga dilakukan secara kombinasi,
baik dengan pembedahan maupun kemoterapi. Radioterapi dapat diberikan pada
semua jenis kanker dan stadium.
1. Tindakan untuk membunuh sel tumor, memperkecil ukuran tumor , mengurangi nyeri dan obstruksi
2. Tujuan Radiasi: Maksimum tumor kontrol dengan kerusakan minimal pada jaringan normal
3. Pemberian:
a. Sinar luar diberi dalam dosis yang disesuaikan dengan kemampuan pasien
b. sinar dalam untuk tumor yang terletak pada rongga tubuh
Efek Samping Radiasi :
a. Kulit (radiasi luar): lecet, kemerahan, kehitaman
c. Pencernaan: mual/muntah, diare, perdarahan
d. Pneumonitis Radiasi
PROSEDUR RADIOTERAPI
1. Investigasi
a. Anamnesis/wawancara tentang :
- Identitas: Nama, usia, pekerjaan, alamat, dsb
- Riwayat penyakit.
- Pemeriksaan atau pengobatan yang pernah didapat.
b. Pemeriksaan:
- Pemeriksaan fisik.
- Pemeriksaan laboratorium.
- Pemeriksaan Radiologi
- Patologi Anatomi
2. Menetapkan:
a. Diagnosis
b. Stadium
c. Indikasi pengobatan: ada/tidak ada
d. Tujuan pengobatan radiasi: kuratif/paliatif
e. Volume dosis yang akan diberikan
3. Membuat Perencanaan Radiasi.
1) Pembuatan Masker
2) Simulasi
3) CT-Scan untuk perencanaan
4) Treatment Planning System (TPS) / perencanaan radiasi dengan komputerisasi
4. Pelaksanaan Radiasi
Radiasi harus diberikan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya baik melalui simulasi, CT planning radiasi dan distribusi dosis yang dibuat secara komputerisasi sehingga harus tepat dosis, sasaran dan waktu radiasi
5. Monitor/Follow-up
Setiap pasien yang mendapat radiasi harus dimonitor/follow-up baik dalam pengobatan maupun setelah pengobatan radiasi selesai. Dari data monitor pasien yang mendapat pengobatan dengan radiasi maka akan dapat pula dievaluasi hasil-hasil pengobatan radiasi, baik respon tumor sendiri maupun efek samping yang timbul.
6. Evaluasi
Setelah pasien dinyatakan selesai menjalani terapi radiasi, maka dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan radiasi yang diberikan. Evaluasi dapat meliputi:
- Respon pengobatan
- Toleransi pasien
- Efek samping dan akut lambat, dll
(http://www.dharmais.co.id/index.php/radiasi.html)
1. Tindakan untuk membunuh sel tumor, memperkecil ukuran tumor , mengurangi nyeri dan obstruksi
2. Tujuan Radiasi: Maksimum tumor kontrol dengan kerusakan minimal pada jaringan normal
3. Pemberian:
a. Sinar luar diberi dalam dosis yang disesuaikan dengan kemampuan pasien
b. sinar dalam untuk tumor yang terletak pada rongga tubuh
Efek Samping Radiasi :
a. Kulit (radiasi luar): lecet, kemerahan, kehitaman
- Gunakan sabun lembut
- Keringkan kulit dengan lembut JANGAN DIGOSOK
- Bedak atau lotion harus dengan seijin dokter
- Gunakan baju yang longgar menyerap keringat
- Hindari sinar matahari langsung
c. Pencernaan: mual/muntah, diare, perdarahan
d. Pneumonitis Radiasi
- 1-3 bulan setelah terapi
- Cough, fever
- Obat
PROSEDUR RADIOTERAPI
1. Investigasi
a. Anamnesis/wawancara tentang :
- Identitas: Nama, usia, pekerjaan, alamat, dsb
- Riwayat penyakit.
- Pemeriksaan atau pengobatan yang pernah didapat.
b. Pemeriksaan:
- Pemeriksaan fisik.
- Pemeriksaan laboratorium.
- Pemeriksaan Radiologi
- Patologi Anatomi
2. Menetapkan:
a. Diagnosis
b. Stadium
c. Indikasi pengobatan: ada/tidak ada
d. Tujuan pengobatan radiasi: kuratif/paliatif
e. Volume dosis yang akan diberikan
3. Membuat Perencanaan Radiasi.
1) Pembuatan Masker
2) Simulasi
3) CT-Scan untuk perencanaan
4) Treatment Planning System (TPS) / perencanaan radiasi dengan komputerisasi
4. Pelaksanaan Radiasi
Radiasi harus diberikan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya baik melalui simulasi, CT planning radiasi dan distribusi dosis yang dibuat secara komputerisasi sehingga harus tepat dosis, sasaran dan waktu radiasi
5. Monitor/Follow-up
Setiap pasien yang mendapat radiasi harus dimonitor/follow-up baik dalam pengobatan maupun setelah pengobatan radiasi selesai. Dari data monitor pasien yang mendapat pengobatan dengan radiasi maka akan dapat pula dievaluasi hasil-hasil pengobatan radiasi, baik respon tumor sendiri maupun efek samping yang timbul.
6. Evaluasi
Setelah pasien dinyatakan selesai menjalani terapi radiasi, maka dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan radiasi yang diberikan. Evaluasi dapat meliputi:
- Respon pengobatan
- Toleransi pasien
- Efek samping dan akut lambat, dll
(http://www.dharmais.co.id/index.php/radiasi.html)
Proses Film Radiografi Secara Konvensional
A. PENDAHULUAN
Setelah film mendapat penyinaran dengan sinar-X, langkah selanjutnya adalah film tersebut harus diolah atau diproses di dalam kamar gelap agar diperoleh gambaran radiografi yang permanen dan tampak. Tahapan pengolahan film secara utuh terdiri dari pembangkitan (developing), pembilasan (rinsing), penetapan (fixing), pencucian (washing), dan pengeringan (drying).
1. Pembangkitan
a. Sifat dasar
Pembangkitan merupakan tahap pertama dalam pengolahan film. Pada tahap ini perubahan terjadi sebagai hasil dari penyinaran. Dan yang disebut pembangkitan adalah perubahan butir-butir perak halida di dalam emulsi yang telah mendapat penyinaran menjadi perak metalik atau perubahan dari bayangan laten menjadi bayangan tampak. Sementara butiran perak halida yang tidak mendapat penyinaran tidak akan terjadi perubahan. Perubahan menjadi perak metalik ini berperan dalam penghitaman bagian-bagian yang terkena cahaya sinar-X sesuai dengan intensitas cahaya yang diterima oleh film. Sedangkan yang tidak mendapat penyinaran akan tetap bening. Dari perubahan butiran perak halida inilah akan terbentuk bayangan laten pada film.
b. Bayangan laten (latent image)
Emulsi film radiografi terdiri dari ion perak positif dan ion bromida negative (AgBr) yang tersusun bersama di dalam kisi kristal (cristal lattice). Ketika film mendapatkan eksposi sinar-X maka cahaya akan berinteraksi dengan ion bromide yang menyebabkan terlepasnya ikatan elektron. Elektron ini akan bergerak dengan cepat kemudian akan tersimpan di daiam bintik kepekaan (sensitivity speck) sehingga bermuatan negatif. Kemudian bintik kepekaan ini akan menarik ion perak positif yang bergerak bebas untuk masuk ke dalamnya lalu menetralkan ion perak positif menjadi perak berwarna hitam atau perak metalik. Maka terjadilah bayangan laten yang gambarannya bersifat tidak tampak. Kejadian ini tergambar melalui reaksi kimia sebagai berikut:
AgBr Ag + + Br -
Br - + radiasi Br - + e -
SS + e - SS -
SS - + Ag + Ag
c. Larutan developer terdiri dari:
i. Bahan pelarut (solvent).
Bahan yang dipergunakan sebagai pelarut adalah air bersih yang tidak mengandung mineral.
ii. Bahan pembangkit (developing agent).
Bahan pembangkit adalah bahan yang dapat mengubah perak halida menjadi perak metalik. Di dalam lembaran film, bahan pembangkit ini akan bereaksi dengan memberikan elektron kepada kristal perak bromida untuk menetralisir ion perak sehingga kristal perak halida yang tadinya telah terkena penyinaran menjadi perak metalik berwarna hitam, tanpa mempengaruhi kristal yang tidak terkena penyinaran. Bahan yang biasa digunakan adalah jenis benzena (C6H6). Reaksi kimia yang terjadi antara bahan pembangkit dengan film dapat dilihat sebagai berikut: '
Ag Br + Bahan pembangkit Ag + Oksida bahan pembangkit + Br - + H+
iii. Bahan pemercepat (accelerator).
Bahan developer membutuhkan media alkali (basa) supaya emulsi pada film mudah membengkak dan mudah diterobos oleh bahan pembangkit (mudah diaktifkan). Bahan yang mengandung alkali ini disebut bahan pemercepat yang biasanya terdapat pada bahan seperti potasium karbonat (Na2CO3 / K2CO3) atau potasium hidroksida (NaOH / KOH) yang mempunyai sifat dapat larut dalam air.
iv. Bahan penahan (restrainer).
Fungsi bahan penahan adalah untuk mengendalikan aksi reduksi bahan pembangkit terhadap kristal yang tidak tereksposi, sehingga tidak terjadi kabut (fog) pada bayangan film. Bahan yang sering digunakan adalah kalium bromida.
v. Bahan penangkal (preservatif).
Bahan penangkal berfungsi untuk mengontrol laju oksidasi bahan pembangkit. Bahan pembangkit mudah teroksidasi karena mengabsorbsi oksigen dari udara. Namun bahan penangkal ini tidak menghentikan sepenuhnya proses oksidasi, hanya mengurangi laju oksidasi dan meminimalkan efek yang ditimbulkannya.
vi. Bahan-bahan tambahan.
Selain dari bahan-bahan dasar, cairan pembangkit mengandung pula bahan-bahan tambahan seperti bahan penyangga (buffer) dan bahan pengeras (hardening agent). Fungsi dari bahan penyangga adalah untuk mempertahankan pH cairan sehingga aktivitas cairan pembangkit relatif konstan. Sedangkan fungsi dari bahan pengeras adalah untuk mengeraskan emulsi film yang diproses.
2. Pembilasan
Merupakan tahap selanjutnya setelah pembangkitan. Pada waktu film dipindahkan dari tangki cairan pembangkit, sejumlah cairan pembangkit akan terbawa pada permukaan film dan juga di dalam emulsi filmnya. Cairan pembilas akan membersihkan film dari larutan pembangkit agar tidak terbawa ke dalam proses selanjutnya.
Cairan pembangkit yang tersisa masih memungkinkan berlanjutnya proses pembangkitan walaupun film telah dikeluarkan dari larutan pembangkit. Apabila pembangkitan masih terjadi pada proses penetapan maka akan membentuk kabut dikroik (dichroic fog) sehingga foto hasil tidak memuaskan.
Proses yang terjadi pada cairan pembilas yaitu memperlambat aksi pembangkitan dengan membuang cairan pembangkit dari permukaan film dengan cara merendamnya ke dalam air. Pembilasan ini harus dilakukan dengan air yang mengalir selama 5 detik.
3. Penetapan
Diperlukan untuk menetapkan dan membuat gambaran menjadi permanen dengan menghilangkan perak halida yang tidak terkena sinar-X. Tanpa mengubah gambaran perak metalik. Perak halida dihilangkan dengan cara mengubahnya menjadi perak komplek. Senyawa tersebut bersifat larut dalam air kemudian selanjutnya akan dihilangkan pada tahap pencucian.
Tujuan dari tahap penetapan ini adalah untuk menghentikan aksi lanjutan yang dilakukan oleh cairan pembangkit yang terserap oleh emulsi film. Pada proses ini juga diperlukan adanya pengerasan untuk memberikan perlindungan terhadap kerusakan dan untuk mengendalikan akibat penyerapan uap air.
Bahan-bahan yang dipakai untuk membuat suatu cairan penetap adalah:
a. Bahan penetap (fixing agent).
Dipilih bahan yang berfungsi mengubah perak halida. Bahan ini bersifat dapat bereaksi dengan perak halida dan membentuk komponen perak yang larut dalam air, tidak merusak gelatin, dan tidak memberikan efek terhadap bayangan perak metalik. Bahan yang umum digunakan adalah natrium thiosulfat (Na2S2O3) yang dikenal dengan nama hypo. Reaksi kimia yang terjadi pada film adalah sebagai berikut:
Na2S2O3 + AgBr = Na2Ag(S2O3)2) + NaBr
b. Bahan pemercepat (accelerator).
Untuk menghindari kabut dikroik dan timbulnya noda kecoklatan, biasanya digunakan asam yang sesuai. Karena pembangkit memerlukan basa dalam menjalankan aksinya, maka tingkat keasaman cairan penetap akan menghentikan aksinya.
Asam kuat seperti asam sulfat (H2SO4) akan merusak bahan penetap dan mengendapkan sulfur, seperti terlihat pada reaksi kimia berikut:
Na2S2O3 + 2HAc 2NaAc + H2S2O4
H2S2O3 H2SO3 +S (sulfurisasi)
Maka bahan pengaktif yang umumnya dipergunakan adalah asam lemah seperti asam asetat (CH3COOH). Akan tetapi dengan penggunaan asam lemah ini masih terjadi pengendapan sulfur. Untuk mengatasi hal ini maka dipergunakan bahan penangkal.
c. Bahan penangkal (preservatif).
Untuk menghindari adanya pengendapan sulfur maka pada cairan penetap ditambahkan bahan penangkal yang akan melarutkan kembali sulfur tersebut. Bahan penangkal yang digunakan adalah natrium sulfit, natrium metabisulfit, atau kalium metabisulfit.
d. Balian pengeras (hardener).
Bahan ini digunakan untuk mencegah pembengkakan emulsi film yang berlebihan. Pembengkakan emulsi akan membuat perak bromida mudah terkelupas dan pengeringan film yang tidak merata. Bahan yang digunakan biasanya adalah potassium alum [K2SO4Al3(SO4)2H2O], aluminium sulfat [Al2(SO4) 3].
e. Bahan penyangga (buffer).
Digunakan untuk mempertahankan pH cairan agar dapat tetap terjaga pada nilai 4 - 5. Bahan yang digunakan adalah pasangan antara asam asetat dengan natrium asetat, atau pasangan natrium sulfit dengan natrium bisulfit.
f. Pelarut (solvent).
Pelarut yang ummn digunakan adalah air bersih.
4. Pencucian.
Setelah film menjalani proses penetapan maka akan terbentuk perak komplek dan garam. Pencucian bertujuan untuk menghilangkan bahan-bahan tersebut dalam air. Tahap ini sebaiknya dilakukan dengan air mengalir agar dan air yang digunakan selalu dalam keadaan bersih.
5. Pengeringan
Merupakan tahap akhir dari siklus pengolahan film. Tujuan pengeringan adalah untuk menghilangkan air yang ada pada emulsi. Hasil akhir dari proses pengolahan film adalah emulsi yang tidak rusak, bebas dari partikel debu, endapan kristal, noda, dan artefak.
Cara yang paling umum digunakan untuk melakukan pengeringan adalah dengan udara. Ada tiga faktor penting yang mempengaruhinya, yaitu suhu udara, kelembaban udara, dan aliran udara yang melewati emulsi.
(http://puskaradim.blogspot.com/)
Setelah film mendapat penyinaran dengan sinar-X, langkah selanjutnya adalah film tersebut harus diolah atau diproses di dalam kamar gelap agar diperoleh gambaran radiografi yang permanen dan tampak. Tahapan pengolahan film secara utuh terdiri dari pembangkitan (developing), pembilasan (rinsing), penetapan (fixing), pencucian (washing), dan pengeringan (drying).
1. Pembangkitan
a. Sifat dasar
Pembangkitan merupakan tahap pertama dalam pengolahan film. Pada tahap ini perubahan terjadi sebagai hasil dari penyinaran. Dan yang disebut pembangkitan adalah perubahan butir-butir perak halida di dalam emulsi yang telah mendapat penyinaran menjadi perak metalik atau perubahan dari bayangan laten menjadi bayangan tampak. Sementara butiran perak halida yang tidak mendapat penyinaran tidak akan terjadi perubahan. Perubahan menjadi perak metalik ini berperan dalam penghitaman bagian-bagian yang terkena cahaya sinar-X sesuai dengan intensitas cahaya yang diterima oleh film. Sedangkan yang tidak mendapat penyinaran akan tetap bening. Dari perubahan butiran perak halida inilah akan terbentuk bayangan laten pada film.
b. Bayangan laten (latent image)
Emulsi film radiografi terdiri dari ion perak positif dan ion bromida negative (AgBr) yang tersusun bersama di dalam kisi kristal (cristal lattice). Ketika film mendapatkan eksposi sinar-X maka cahaya akan berinteraksi dengan ion bromide yang menyebabkan terlepasnya ikatan elektron. Elektron ini akan bergerak dengan cepat kemudian akan tersimpan di daiam bintik kepekaan (sensitivity speck) sehingga bermuatan negatif. Kemudian bintik kepekaan ini akan menarik ion perak positif yang bergerak bebas untuk masuk ke dalamnya lalu menetralkan ion perak positif menjadi perak berwarna hitam atau perak metalik. Maka terjadilah bayangan laten yang gambarannya bersifat tidak tampak. Kejadian ini tergambar melalui reaksi kimia sebagai berikut:
AgBr Ag + + Br -
Br - + radiasi Br - + e -
SS + e - SS -
SS - + Ag + Ag
c. Larutan developer terdiri dari:
i. Bahan pelarut (solvent).
Bahan yang dipergunakan sebagai pelarut adalah air bersih yang tidak mengandung mineral.
ii. Bahan pembangkit (developing agent).
Bahan pembangkit adalah bahan yang dapat mengubah perak halida menjadi perak metalik. Di dalam lembaran film, bahan pembangkit ini akan bereaksi dengan memberikan elektron kepada kristal perak bromida untuk menetralisir ion perak sehingga kristal perak halida yang tadinya telah terkena penyinaran menjadi perak metalik berwarna hitam, tanpa mempengaruhi kristal yang tidak terkena penyinaran. Bahan yang biasa digunakan adalah jenis benzena (C6H6). Reaksi kimia yang terjadi antara bahan pembangkit dengan film dapat dilihat sebagai berikut: '
Ag Br + Bahan pembangkit Ag + Oksida bahan pembangkit + Br - + H+
iii. Bahan pemercepat (accelerator).
Bahan developer membutuhkan media alkali (basa) supaya emulsi pada film mudah membengkak dan mudah diterobos oleh bahan pembangkit (mudah diaktifkan). Bahan yang mengandung alkali ini disebut bahan pemercepat yang biasanya terdapat pada bahan seperti potasium karbonat (Na2CO3 / K2CO3) atau potasium hidroksida (NaOH / KOH) yang mempunyai sifat dapat larut dalam air.
iv. Bahan penahan (restrainer).
Fungsi bahan penahan adalah untuk mengendalikan aksi reduksi bahan pembangkit terhadap kristal yang tidak tereksposi, sehingga tidak terjadi kabut (fog) pada bayangan film. Bahan yang sering digunakan adalah kalium bromida.
v. Bahan penangkal (preservatif).
Bahan penangkal berfungsi untuk mengontrol laju oksidasi bahan pembangkit. Bahan pembangkit mudah teroksidasi karena mengabsorbsi oksigen dari udara. Namun bahan penangkal ini tidak menghentikan sepenuhnya proses oksidasi, hanya mengurangi laju oksidasi dan meminimalkan efek yang ditimbulkannya.
vi. Bahan-bahan tambahan.
Selain dari bahan-bahan dasar, cairan pembangkit mengandung pula bahan-bahan tambahan seperti bahan penyangga (buffer) dan bahan pengeras (hardening agent). Fungsi dari bahan penyangga adalah untuk mempertahankan pH cairan sehingga aktivitas cairan pembangkit relatif konstan. Sedangkan fungsi dari bahan pengeras adalah untuk mengeraskan emulsi film yang diproses.
2. Pembilasan
Merupakan tahap selanjutnya setelah pembangkitan. Pada waktu film dipindahkan dari tangki cairan pembangkit, sejumlah cairan pembangkit akan terbawa pada permukaan film dan juga di dalam emulsi filmnya. Cairan pembilas akan membersihkan film dari larutan pembangkit agar tidak terbawa ke dalam proses selanjutnya.
Cairan pembangkit yang tersisa masih memungkinkan berlanjutnya proses pembangkitan walaupun film telah dikeluarkan dari larutan pembangkit. Apabila pembangkitan masih terjadi pada proses penetapan maka akan membentuk kabut dikroik (dichroic fog) sehingga foto hasil tidak memuaskan.
Proses yang terjadi pada cairan pembilas yaitu memperlambat aksi pembangkitan dengan membuang cairan pembangkit dari permukaan film dengan cara merendamnya ke dalam air. Pembilasan ini harus dilakukan dengan air yang mengalir selama 5 detik.
3. Penetapan
Diperlukan untuk menetapkan dan membuat gambaran menjadi permanen dengan menghilangkan perak halida yang tidak terkena sinar-X. Tanpa mengubah gambaran perak metalik. Perak halida dihilangkan dengan cara mengubahnya menjadi perak komplek. Senyawa tersebut bersifat larut dalam air kemudian selanjutnya akan dihilangkan pada tahap pencucian.
Tujuan dari tahap penetapan ini adalah untuk menghentikan aksi lanjutan yang dilakukan oleh cairan pembangkit yang terserap oleh emulsi film. Pada proses ini juga diperlukan adanya pengerasan untuk memberikan perlindungan terhadap kerusakan dan untuk mengendalikan akibat penyerapan uap air.
Bahan-bahan yang dipakai untuk membuat suatu cairan penetap adalah:
a. Bahan penetap (fixing agent).
Dipilih bahan yang berfungsi mengubah perak halida. Bahan ini bersifat dapat bereaksi dengan perak halida dan membentuk komponen perak yang larut dalam air, tidak merusak gelatin, dan tidak memberikan efek terhadap bayangan perak metalik. Bahan yang umum digunakan adalah natrium thiosulfat (Na2S2O3) yang dikenal dengan nama hypo. Reaksi kimia yang terjadi pada film adalah sebagai berikut:
Na2S2O3 + AgBr = Na2Ag(S2O3)2) + NaBr
b. Bahan pemercepat (accelerator).
Untuk menghindari kabut dikroik dan timbulnya noda kecoklatan, biasanya digunakan asam yang sesuai. Karena pembangkit memerlukan basa dalam menjalankan aksinya, maka tingkat keasaman cairan penetap akan menghentikan aksinya.
Asam kuat seperti asam sulfat (H2SO4) akan merusak bahan penetap dan mengendapkan sulfur, seperti terlihat pada reaksi kimia berikut:
Na2S2O3 + 2HAc 2NaAc + H2S2O4
H2S2O3 H2SO3 +S (sulfurisasi)
Maka bahan pengaktif yang umumnya dipergunakan adalah asam lemah seperti asam asetat (CH3COOH). Akan tetapi dengan penggunaan asam lemah ini masih terjadi pengendapan sulfur. Untuk mengatasi hal ini maka dipergunakan bahan penangkal.
c. Bahan penangkal (preservatif).
Untuk menghindari adanya pengendapan sulfur maka pada cairan penetap ditambahkan bahan penangkal yang akan melarutkan kembali sulfur tersebut. Bahan penangkal yang digunakan adalah natrium sulfit, natrium metabisulfit, atau kalium metabisulfit.
d. Balian pengeras (hardener).
Bahan ini digunakan untuk mencegah pembengkakan emulsi film yang berlebihan. Pembengkakan emulsi akan membuat perak bromida mudah terkelupas dan pengeringan film yang tidak merata. Bahan yang digunakan biasanya adalah potassium alum [K2SO4Al3(SO4)2H2O], aluminium sulfat [Al2(SO4) 3].
e. Bahan penyangga (buffer).
Digunakan untuk mempertahankan pH cairan agar dapat tetap terjaga pada nilai 4 - 5. Bahan yang digunakan adalah pasangan antara asam asetat dengan natrium asetat, atau pasangan natrium sulfit dengan natrium bisulfit.
f. Pelarut (solvent).
Pelarut yang ummn digunakan adalah air bersih.
4. Pencucian.
Setelah film menjalani proses penetapan maka akan terbentuk perak komplek dan garam. Pencucian bertujuan untuk menghilangkan bahan-bahan tersebut dalam air. Tahap ini sebaiknya dilakukan dengan air mengalir agar dan air yang digunakan selalu dalam keadaan bersih.
5. Pengeringan
Merupakan tahap akhir dari siklus pengolahan film. Tujuan pengeringan adalah untuk menghilangkan air yang ada pada emulsi. Hasil akhir dari proses pengolahan film adalah emulsi yang tidak rusak, bebas dari partikel debu, endapan kristal, noda, dan artefak.
Cara yang paling umum digunakan untuk melakukan pengeringan adalah dengan udara. Ada tiga faktor penting yang mempengaruhinya, yaitu suhu udara, kelembaban udara, dan aliran udara yang melewati emulsi.
(http://puskaradim.blogspot.com/)
Langganan:
Postingan (Atom)